OT Car Accessories - шаблон joomla Авто

Foto/

Kanan

MAP/

JIP Trip IOF Aceh Indonesia Offroad Federation

hari pertama rombongan JIP Trip 7 Days Paradise Exploring Aceh 2014 camping di hutan. Kabut menyelimuti udara pagi ini. Sebuah hal yang wajar memang, karena kami berada di dataran tinggi. Anehnya udara tidak terlalu dingin, tapi udara terasa begitu lembab.

Pagi-pagi sudah terdengar raungan mesin dari belakang. Sisa tiga kendaraan yang berhasil mendekat ke rombongan di depan. “Dua kendaraan dengan terpaksa tidak dapat melanjutkan ke sini. Karena ada masalah pada kendaraanya,” terang Fion.

“Lumpurnya semakin dalam, satu ban sudah tenggelam dalam lumpur di bawah sana,” imbuh Rony Welas. Tanah yang dilewati cukup gembur dan jadi petaka saat terkena air. Bahkan dengan mudah tanah dapat dikeduk dengan tangan.

“Kami semalam hanya bisa buka dua tenda, selebihnya tidur di dalam kendaraan” ucap Fendri Kamil. Lokasi camping ketiga kendaraan yang terjebak memang sudah hancur. Meskipun  semalam tidak tidur nyaman, semangat peserta tentu masih menggebu.

  Setelah perjuangan yang cukup panjang akhirnya ketiga kendaraan bisa bergabung dengan rombongan besar.

 

“Wah kamera sampai berembun,” celetuk Bondho. Ini karena udara yang lembab dan dingin. Kabut tidak berhenti menyelimuti kami dari pagi tadi. Hampir semua peserta pakai raincoat atau windbreaker untuk menahan udara dingin.

Handicap tanjakan seakan tidak memberi kami jeda bernafas. “Ini harinya winching,” canda Iwan. Baru bergerak 50 meter kami sudah harus winching dengan jarak rata-rata hampir 200 meter. Hari itu memang kerja berat!

 Dinginnya udara sudah tidak dirasakan oleh tubuh kami. “Suhunya sekarang 18° Celcius lho,” celetuk dokter Silverus Purba. Ini karena winching di tanjakan cukup terjal sejauh 200 meter. Semua peserta pun bekerja sama dengan cara melakukan winching estafet.

Tidak terasa sudah pukul 12 siang.  Kami masih harus menuntaskan winching panjang ini. Semua peserta tidak sadar sudah kalau sudah tengah hari. Hal ini karena dari pagi kami belum bertemu dengan sinar matahari. Bahkan suasana masih terasa gelap akibat embun yang terus menyelimuti.

Setelah beberapa jam berjuang untuk jarak 200 meter, “Kita istirahat makan siang sejenak,” perintah Fion sebagai trip leader. Akhirnya kami pun meregangkan sejenak otot-otot yang sudah bekerja keras.

Sesekali butiran air seperti hujan gerimis membasahi kami saat makan siang. “Tingkat kelembaban hutan ini tinggi sekali,” ucap Pur. Bisa terlihat tandanya dari semua batang pohon yang ditumbuhi lumut. Wajar saja kalau kami selalu diselimuti embun dari pagi. Saat ini kami berada diketinggian 1771 meter di atas permukaan laut.

  Dinginnya udara sudah tidak dirasakan oleh tubuh kami. “Suhunya sekarang 18° Celcius lho,” celetuk dokter Silverus Purba. Ini karena winching di tanjakan cukup terjal sejauh 200 meter. Semua peserta pun bekerja sama dengan cara melakukan winching estafet.

Tidak terasa sudah pukul 12 siang.  Kami masih harus menuntaskan winching panjang ini. Semua peserta tidak sadar sudah kalau sudah tengah hari. Hal ini karena dari pagi kami belum bertemu dengan sinar matahari. Bahkan suasana masih terasa gelap akibat embun yang terus menyelimuti.

Setelah beberapa jam berjuang untuk jarak 200 meter, “Kita istirahat makan siang sejenak,” perintah Fion sebagai trip leader. Akhirnya kami pun meregangkan sejenak otot-otot yang sudah bekerja keras.

 

Sesekali butiran air seperti hujan gerimis membasahi kami saat makan siang. “Tingkat kelembaban hutan ini tinggi sekali,” ucap Pur. Bisa terlihat tandanya dari semua batang pohon yang ditumbuhi lumut. Wajar saja kalau kami selalu diselimuti embun dari pagi. Saat ini kami berada diketinggian 1771 meter di atas permukaan laut.

  Akhirnya setelah tanjakan panjang dan beberapa kali winch pun dilewati. “Dicopy infonya, turun perlahan dan tunggu info kapan bisa bergerak dari depan,” balas Nurin dari radio komunikasi. Ternyata turunannya tidak kalah curam dari tanjakan yang sudah kami lewati.

Tiga kendaraan sudah berada beberapa jauh di depan. “Hari sudah sore, di depan masih ada handicap. Lebih baik kita cari spot enak untuk camping malam ini,” info dari Insu. Akhirnya kami berhenti mencari posisi paling enak untuk camping. Bermalam kali ini di lokasi terpisah oleh bukit yang berdampingan.

 

Hujan terus mengguyur dari awal kami buka tenda. “Wah, malam ini bakal makin dingin nih!” keluh Windu. Ternyata benar saja, suhu udara malam hari mencapai 16° Celcius! Pasti menggigil kedinginan tidur malam ini. Brrr…!

Last modified on Thursday, 09 July 2015 03:30
Bawah Page