OT Car Accessories - шаблон joomla Авто

Foto/

Kanan

MAP/

Betapa Singkatnya Tujuh Hari

BANDA ACEH – “Kalau saudah datang ke Aceh dan mencicipi kopi Aceh, pastinya bakal kembali lagi,” begitu kata warga Aceh yang kami temui di Takengon. Kami pun setuju dengan ungkapan ini.

Apa lagi setelah 7 hari berpetualangan mengelilingi Aceh, rasanya belum cukup untuk menikmatinya. Kalau dibilang bakal kembali lagi, justru kami tidak mau cepat meninggalkan Aceh.

Kunjungan kami ke Aceh kali ini dalam rangka acara JIP yang bertajuk JIP Trip 7 Days Paradise, Exploring Aceh 2014. Berlangsung pada tanggal 1-7 Juni 2014, acara berbau perjalanan off-road ini mengelilingi berbagai pelosok provinsi paling ujung Sumatera itu.

JIP Trip sendiri merupakan event outdoor majalah JIP yang digagas pada tahun 2010 silam. Tujuan utamanya untuk mengajak pembaca berbagi keceriaan saat ulang tahun JIP. Bedanya dengan Jip Trip sebelumnya, kali ini ada tambahan 7 Days Paradise yang menunjukkan durasi event selama 7 hari.

Karena skalanya berbeda dan rutenya juga jauh, maka butuh persiapan yang lebih serius dan mendetail dibandingkan Jip Trip sebelumnya. Beruntung dalam kegiatan kali ini kami didukung pihak-pihak yang sangat kompeten membantu terlaksananya event ini dengan lancar.

Tak lupa Kombes Pol Drs Syamsul Bahri MM, sebagai Kepala Direktur Ditlantas Aceh yang tak hanya ikut dalam sebagian perjalanan, tapi juga membantu kelancara selama mengelilingi wilayah Aceh.

Tentu dalam 7 hari perjalanan, banyak kejadian unik, seru dan tempat menarik yang dikunjungi. Ada peserta ternyata keturunan raja Linge,hingga dikejutkan dengan gempa bumi. Juga udara dingin yang menyelimuti hampir sepanjang perjalanan, ditambah panaroma yang ditemui, membuat perjalanan ini tak terlupakan.

Ada 30 kenderaan dengan 31 peserta yang tergabung dalam Jip Trip kali ini. Memang sengaja dibatasi lantaran ini adalah pilot project 7 Days Paradise.

Tim FnF Pro yang menjadi eksekutor event sangat menjaga ketepatan waktu perjalanan dengan prinsip “No Car Left Behing”. Alhasil peserta pun diseleksi khusus demi  kualitas perjalanan perdana ini.

Peserta yang tergabung dalam 10 kenderaan cukup beragam. Bahkan ada empat wanita asal Malaysia. Mereka jurnalis yang sudah sering meliput off-roa, malah Narimah Samah dan Norhayati Jamaluddin sudah biasa off-road di Rainforest Challenge. Lainnya peserta yang mewakili daerah Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Sambutan Takengon

Tanggal 32 Juni 2014, kenderaan peserta scrutineering di PT Dunia Barusa. “Kesiapan bukan hanya kenderaan. Peralatan recovery dan camping juga dilihat,” ungkap Fion Kamil sebagai trip leader JIP Trip. Toh, semua demi kenyamanan peserta.

Ussi scrut, peserta diberi special task atau games. Logistic day,itu dia nama games kali ini. Kegiatannya, peserta diberi waktu dua jam berbelanja perbekalanan untuk 7 hari perjalanan nanti. Nominal logistik yang dibelanja pun tidak boleh melebihi Rp2 juta.

“Lebih baik logistik yang dibawa memenuhi kebutuhan karbohidrat dan kalori,” masukan dari dr Silverus Purba. Swalayan Pante Pirak yang terletak di Simpang Lima, Aceh pun dipenuhi para peserta JIP Trip. Masing-masing anggota dari 10 kenderaan sibuk dorong-dorong kereta belanja di lorong makanan.

Besoknya tiba waktu pelepasan peserta. Lokasi bertempat di Meseum Tsunami Aceh. Lokasi Museum Tsunami ini berada di titik terakhir gelombang tinggi tsunami saat menghantam kota Banda Aceh.

Museum Tsunami tampak indah pagi itu. Dengan bangunannya yang memadukan khas Aceh dan desain futuristik. Di dalamnya tersimpan dokumentasi saksi bisu kejadian tsunami Aceh. ditambah iringan tari Ranup Lampuan. Merupakan tari penyambutan tamu khas Aceh yang menambah sejuk suasana pagi itu.

Peserta dilepas langsung oleh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh. “Alam Aceh sangat indah. Pastinya peserta JIP Trip akan disuguhkan dengan banyak pemandangan indah,” terangnya.

Perjalanan langsung menuju  kota Takengon. Kota yang berada persis di sebelah Danau Lau Tawar. Berada diketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Tentu udaranya dingin.

Sebelum masuk Takengon, rombongan JIP Trip 7 Days Paradise Exploring 2014 melawati daerah Cot Panglima. Di sini peserta meliihat keindahan alam Aceh yang pertama. Tebing tinggi puluhan meter ini seolah jadi ukiran alam raksasa yang dipajang di tepi jalan.

Hari semakin gelap, kami pun hampir tiba di kota Takengon. Posisi saat memasuki kota Takengon menuruni tebing. Kota Takengon tampak indah dari kejauhan. Danau Laut Tawar yang berada di sebelah kota Takengon memanjakan pandangan mata Anda.

Di sana kami sudah ditunggu oleh IOF Pencab Takengon. “Selamat datang di Takengon,” ucap Yose, anggota IOF Takengon. Rombongan parkir di pelataran beralaskan semen.

Kami tidak menyangka jika bangunan yang lebih mirip gedung Koperasi Unit Desa ternyata sebuah laboratorium kopi bernama Ketiare. Halaman depan yang tidak begitu luas, semuanya sudah tertutup semen, pasti sekaligus berfungsi sebagailahan jemuran kopi.

“Kopi Takengon enaknya diminum tanpa gula, kalau mau pakai gula cuku satu sendok teh saja,” jelas wanita yang mengantarkan kopi.

Kami pun mencicipi langsung tanpa gula, ternyata pahit buat yang tidak biasa. Tapi waktu ditambahkan gula, rasa pahit langsung hilang bergitu saja. Udara dingin dan segelas kopi panas.. Nikmat!

Usai jamuan kami langsung menuju Danau laut Tawar. Ini camp-site pertama kami.

“Ayo makan ikan asam pedas!” ajak salah satu anggota IOF Takengon. Ternyata belum usai juga jamuan malam oleh teman IOF Takengon. Kami pin menikmati hangatnya kuah ikan asam pedas, sembil tertiup udara angin di pinggir Danau Laut Tawar. Tema “Paradise Aceh” sudah kami cicipi.

Setelah kenyang, rombongan JIP Trip pun buka tenda persis di pinggir danau. “Besok matahari bakal terbit dari sana,” ucap Insuhendang sambil menunjuk ke arah depan tenda saya. Ingin sekali mempercepat waktu begitu mendengar kata-kata tadi.

Pagi pun tiba, saya langsung menunggu terbitnya matahari. Peserta lainnya pun juga tidak mau melewatkan momen ini dan sudah berdiri di tepi danau. Matahari pun muncul dari balik bukit. Sinarnya menyirami permukaan Laut Tawar. Indah...

“Cantk sekali ya, pemandangan seperti ini sangat langka,” ungkap Zalina peserta dari Malaysia. Jauh dari Malaysia, tentu Zalina tidak mau kehilangan momen indah ini. Walaupun harus bangun di tengah pagi buta dengan suhu udara sangat dingin.

Puas menikati indahnya sinar matahari pagi di Danau Laut Tawar. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju daerah linge. Jalanan melewati pinggir terbing samping danau. Awan pun sejajar dengan kenderaan kami. Semua terdiam, menikmati indahnya pemandangan.

Setelah mengitari Danau Laut Tawar, kami pun memasuki hutan pinus. Di sini pohon pinus menjulang tinggi di antara perbukitan. “Tinggal tambah sedikit salju bakal semakin indah,” celetuk Ferlie, fotografer JIP.

Linge merupakan daerah kerajaan kuno Acceh. Konon kerajaan Linge sudah ada sejak 416 masehi. “Sayang kerajaan ini sudah musnah sejak zaman penjajahan dulu, peninggalannya lenyap begitusaja,” terang warga yang masih keturunan Raja Linge.

Ada yang unik saat kami di Linge. Ternyata salah satu peserta JIP Trip 7 Days Paradise Exploriing Aceh ada yang turunan kerajaan Linge. “Saya terkejut, setelah diterawang, ternyata saya keturunan Raja Linge,” terang Zalina. Jauh-jauh dari Malaysia ternyata Zalina memiliki darah Aceh juga.

Perjalanan pun berlanjut menuju daerah Berawang Baro. Di sana kami sudah ditunggu trek off-road yang berada diketinggian rata-rata 1600 meter. Baju hangat sudah harus disiapkan. “Curah hujan di sana tinggi,” celetuk Yose. Mendengar kata hujan, semua peserta tampak tersenyum kecil, “pasti treknya edan!”

 

Rasanya kami sudah tidak sabar memasuki off-road. Sudah terbayang bagaimana hutan yang akan kami lewati. Karena nantinya kami akan melewati jalur lintas warga yang sudah tidak digunakan sejak 2005. Pasti alami dan ekstrim! 

Last modified on Wednesday, 01 June 2016 18:38
Bawah Page